Digital Product Passport (DPP) atau paspor produk digital adalah catatan digital yang menghubungkan sebuah produk fisik dengan informasi penting tentang identitas, bahan, asal-usul, perawatan, perbaikan, dan akhir masa pakainya. Informasi tersebut dapat diakses melalui media pembawa data seperti kode QR, lalu ditampilkan lewat halaman web atau sistem yang dapat membaca data terstruktur. Tujuannya bukan sekadar menambahkan kode pada kemasan, melainkan membuat informasi produk lebih mudah ditelusuri sepanjang rantai pasok.
Apa itu Digital Product Passport?
DPP dapat dipahami sebagai identitas digital yang melekat pada model, kelompok produksi, atau unit produk tertentu. Isi persisnya bergantung pada aturan untuk kategori produk yang bersangkutan. Pada pakaian, misalnya, informasi yang berguna dapat mencakup komposisi serat, petunjuk perawatan, pilihan perbaikan, dan cara mendaur ulang. Untuk perangkat elektronik, informasi relevan mungkin meliputi bahan, komponen, petunjuk pembongkaran, suku cadang, serta penanganan di akhir masa pakai.
Paspor ini tidak harus menyimpan seluruh data di dalam kode QR. Umumnya, kode berfungsi sebagai pengenal atau tautan menuju layanan yang menyajikan data. Dengan begitu, informasi dapat diperbarui ketika diperlukan tanpa mencetak ulang semua rincian pada label, selama pengenal dan alamat aksesnya dikelola secara berkelanjutan.
Mengapa DPP mulai penting?
Uni Eropa memasukkan DPP ke dalam Ecodesign for Sustainable Products Regulation (ESPR), Peraturan (EU) 2024/1781. Kerangka tersebut membuka jalan bagi persyaratan informasi produk yang lebih konsisten, termasuk informasi yang membantu konsumen, pelaku usaha, pihak perbaikan, dan pendaur ulang mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih jelas.
Perkembangannya perlu dibaca dengan cermat. ESPR merupakan kerangka umum; rincian kewajiban, jenis data, dan jadwal penerapan ditetapkan melalui aturan turunan untuk kelompok produk tertentu. Pada 14 Juli 2026, Komisi Eropa menerbitkan keputusan pelaksanaan mengenai standar harmonisasi DPP. Itu merupakan perkembangan standardisasi yang penting, tetapi bukan berarti semua produk langsung memiliki kewajiban dan tenggat identik.
Bagi produsen, importir, pemasok, dan eksportir, persiapan lebih awal dapat mengurangi pekerjaan mendadak saat aturan kategori produk mulai berlaku. Bagi konsumen, DPP berpotensi memudahkan pemeriksaan asal, komposisi, pemeliharaan, dan pilihan penggunaan kembali—jika informasi yang diberikan lengkap dan dapat dipercaya.
Informasi apa yang dapat dicantumkan?
Rincian data mengikuti aturan yang berlaku untuk produk tersebut. Secara praktis, organisasi dapat mulai memetakan beberapa kelompok informasi berikut:
- Identitas produk: pengenal unik, model, nomor lot atau nomor seri bila diperlukan, serta hubungan dengan komponen.
- Komposisi dan bahan: bahan utama, kandungan daur ulang, atau informasi zat tertentu jika diwajibkan.
- Asal dan rantai pasok: produsen, fasilitas, pemasok, atau tahapan produksi yang relevan.
- Penggunaan dan perawatan: instruksi pemakaian, perawatan, perbaikan, dan ketersediaan suku cadang.
- Akhir masa pakai: petunjuk pembongkaran, penggunaan kembali, pemilahan, atau daur ulang.
- Dokumen pendukung: deklarasi, sertifikat, atau data kepatuhan yang memang perlu disediakan.
Daftar tersebut adalah contoh untuk perencanaan, bukan daftar wajib universal. Perusahaan perlu memeriksa aturan kategori produk agar tidak mengumpulkan data yang tidak relevan atau justru melewatkan informasi yang diwajibkan.
Bagaimana cara kerjanya?
- Produk diberi pengenal unik. Pengenal membedakan produk pada tingkat yang ditentukan—misalnya model, lot, atau unit—dan harus tetap konsisten sepanjang siklus hidupnya.
- Pengenal dihubungkan dengan pembawa data. Kode QR, Data Matrix, atau teknologi lain dapat digunakan sesuai kebutuhan teknis dan ketentuan kategori. Pembawa data harus ditempatkan pada produk, kemasan, atau dokumentasi sebagaimana ditentukan aturan yang berlaku.
- Data disimpan dan dikelola. Informasi dapat berasal dari sistem internal seperti ERP, PLM, sistem mutu, atau pemasok. Pemilik data perlu menentukan siapa yang memvalidasi, memperbarui, dan menyetujui setiap bidang.
- Pengguna membuka informasi sesuai hak akses. Konsumen mungkin melihat informasi perawatan dan daur ulang, sementara regulator atau mitra rantai pasok dapat memerlukan data tambahan. Akses tidak harus sama untuk semua pihak.
Standar terbuka dan format yang dapat dipertukarkan penting agar data tidak terkurung di satu platform. GS1 Digital Link, misalnya, dapat menghubungkan pengenal produk GS1 dengan alamat web. Namun, perusahaan tetap harus memastikan standar dan pembawa data yang dipakai sesuai dengan persyaratan khusus untuk produknya.
Kesimpulan
Digital Product Passport memerlukan tata kelola data produk yang konsisten, identitas produk yang stabil, dan akses informasi yang sesuai peran. Petakan kewajiban berdasarkan kategori produk dan pasar tujuan, validasi kualitas data pemasok, serta rancang proses pembaruan dan pemeliharaan sejak awal.
PENGALAMAN BARU Coba tampilan baru Penasaran dengan pengalaman membaca Nazuaf versi modern? Coba tampilan baru yang dirancang agar nyaman dibaca dari ponsel dan pc. Buka versi modern dan lanjutkan membaca artikel ini. Jelajahi tampilan baru Nazuaf versi modern · Ketuk kartu untuk mencoba